Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Nikah Itu Tanggung Jawab, Bukan Pencapaian


Sumber: https://www.jawapos.com/

Ketika ingin mengawali obrolan dengan teman lama ataupun kerabat rasanya tidak afdhol kalau tidak basa-basi terlebih dahulu. Benar?

Tapi perlu diingat bahwa basa-basi pun harus tahu aturan agar tidak sampai menyakiti hati lawan bicara. Misalnya saja kita bertanya “Udah kerja? Udah punya anak? Kapan nikah? Udah lulus kuliah? Dan udah-udah yang lain.

Pertanyaan seperti itu memang terkesan biasa untuk orang yang sudah ada di fase itu ataupun sudah melewati fase itu. Tapi yang belum? Kita tidak pernah tahu usaha apa yang sudah dia lakukan untuk mencapai itu tapi belum juga berhasil.

Kapan Nikah?

Dari pertanyaan-pertanyaan “udah kerja? Udah punya anak? Kapan nikah? Udah lulus kuliah” tersebut mari kita kupas lebih dalam satu pertanyaan, yaitu pertanyaan “Kapan nikah?”


Pertanyaan ‘Kapan nikah” kalau itu dilontarkan kepada saya saat-saat ini ya mungkin saya akan menanggapinya dengan bercanda. Kenapa? Ya karena, saya merasa di umur yang segini masih terlalu muda untuk menikah dan masih kurang dewasa juga. Yaa, tapi itu kan saya dalam kondisi yang sekarang. Beberapa tahun lagi mungkin akan berbeda responnya.

Pertanyaan “Kapan nikah” menurutku masih biasa juga, meskipun begitu sangat disarankan untuk tidak dilontarkan. Ya karena tadi, kita tidak tahu seperti apa kondisi orang yang kita tanyai.

Nikah Itu Tanggung Jawab, Bukan Pencapaian

Pertanyaan “Kapan nikah” akan lebih parah ketika setelah menanyakan itu ada lanjutannya, seperti, ”Kamu kapan nikah? Udah umur segini kok belum nikah? Gak laku ya? Atau gak suka sama lawan jenis?”

Sebagai orang yang terdidik, seharusnya kalimat itu tidak dilontarkan. Umur segini kok belum nikah? Memangnya kenapa kalau belum? Lagipula, menurutku nikah itu bukan pencapaian, tapi tanggung jawab besar.

Ranah tanggung jawab dalam pernikahan mencakup berbagai aspek, yang tentunya tidak hanya aspek materi, tapi juga aspek agama, sikap, cara berpikir, pengertian dan kesetiaan. Keseluruhan aspek itu perlu diterapkan dan diperjuangkan secara kontinu.

Saya banyak mengamati kehidupan pernikahan di sekitar, ternyata banyak yang belum memahami makna tanggung jawab. Si suami merasa sudah jadi pasangan yang bertanggung jawab ketika sudah memberikan nafkah materi padahal sepulang kerja dia sibuk main hp daripada main bersama anaknya. Si istri juga sudah merasa bertanggung jawab ketika sudah melayani suami dan mengurus rumah padahal sepulang suami kerja ia malah sibuk main hp. Padahal, tanggung jawab pernikahan tidak sesederhana urusan materi, tapi ada beberapa aspek yang sudah saya sebutkan diatas.

Islam pun sudah menjelaskan secara gamblang terkait bagaimana tanggung jawab suami istri itu seharusnya.

مجاهدة النفس ورياضتها بالرعاية والولاية والقيام بحقوق الأهل والصبر على أخلاقهن واحتمال الأذى منهن والسعي في إصلاحهن وإرشادهن إلى طريق الدين والاجتهاد في كسب الحلال لأجلهن والقيام بتربيته لأولاده 

Artinya, “(Salah satu faidah nikah adalah) berjuang melawan diri sendiri dan melatih kepribadian dalam mengasuh, mengayomi, memenuhi kewajiban terhadap keluarga, bersabar atas kelakuan mereka, menanggung kecewa karena ulah mereka, berusaha memperbaiki dan menunjuki mereka ke jalan agama, berjuang mencari nafkah halal untuk mereka, dan mendidik anak-anak,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz II, halaman 36).

Nah, karena menikah itu tanggung jawab, maka tidak perlu buru-buru bukan? Bahkan seharusnya, untuk menjemput tanggung jawab itu, kita perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Mempersiapkan diri pun tidak sesederhana ketika kita akan bepergian ke luar kota selama seminggu. Tidak seperti itu. Tidak hanya mempersiapkan materi, kita juga perlu mempersiapkan mental apakah kita sudah siap dengan semua terjangan-terjangan yang mungkin terjadi setelah menikah. Selain materi dan mental, kita juga harus menyiapkan pendidikan.

Kenapa Pendidikan Juga Termasuk Bagian Penting dalam Pernikahan?

Kita harus tahu bahwa penyebab rusaknya rumah tangga bukan hanya dari orang ketiga. Tetapi banyak faktor lain, salah satunya karena ekonomi. Data yang ada menyebutkan jika akhir-akhir ini angka perceraian terus meningkat dan faktor yang paling berpengaruh adalah faktor ekonomi. Nah, untuk itulah kita membutuhkan pendidikan.

Pendidikan dalam rumah tangga meliputi bagaimana harus menjalani kehidupan pernikahan dengan bahagia, hubungan pernikahan yang siap menerima kekurangan juga kelebihan masing-masing, bagaimana mengelola ekonomi keluarga yang baik, bagaimana istri bersikap ke suami dan sebaliknya, bagaimana mengurus anak, bagaimana meminimalisir Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan masih banyak lagi.

Standar Pencapaian Setiap Orang Itu Berbeda

Kamu mungkin berpendapat bahwa menjalani bahtera rumah tangga dengan kekasih adalah salah satu pencapaian dalam hidup. Berbeda lagi dengan temanmu yang mungkin berpendapat bahwa menikah bukan pencapaian. Penting, tapi bukan pencapaian dalam hidup.

Setiap orang memiliki standar pencapaian tersendiri. Kamu tidak perlu mengukur kebahagiaan orang lain dengan standar kebahagiaanmu, kamu juga tidak perlu mengukur pencapaian orang lain dengan standar pencapaianmu.

 

Perpisahan: Menyakitkan Tapi Banyak Hikmahnya

Sumber: https://pcnusumenep.or.id/

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itu pasti dan kita tidak bisa menghindarinya. Setiap orang memiliki alasan tersendiri untuk berpisah. 

Sakit memang, tapi bukankah setiap yang datang pada kita ada masanya berpisah? Meninggalkan kita atau justru kita yang harus meninggalkan. 

Semanis Apapun Caranya, Perpisahan Tetaplah Menyakitkan

Bagiku, semanis apapun caranya, perpisahan tetaplah menyakitkan. Apalagi berpisah dengan orang-orang terkasih. Banyak hal susah untuk dilupakan begitu saja. Kebersamaannya, pembelajarannya dan semua hal perihal orang terkasih. Kalian setuju dengan pernyataanku ini?

Meski kita berpamitan dengan acara makan-makan, nonton bareng, berpelukan satu sama lain, rasa sakit karena perpisahan tetaplah ada. 

Di awal perpisahan, aku bahkan merasa marah, meskipun tidak tahu harus marah kepada siapa. Kenapa harus secepat ini? Kenapa? Dan kenapa yang lain. Aku bahkan sempat menyalahkan keadaan.

Perpisahan Juga Ada Hikmahnya

Waktu berlalu dan hari ini aku sudah setengah ikhlas. Iya, baru setengah. Setengahnya, aku masih mencoba untuk ikhlas. 

Aku mencoba berpikir positif dan mencoba menggali hikmah atas apa yang terjadi. Bukankah perpisahan juga merupakah salah satu bentuk pendewasaan?

Dan aku juga mulai sadar, bahwa pada dasarnya kita selalu punya dua pilihan setelah berpisah dengan orang terkasih. Membiarkan diri terus berlarut-larut dalam kesedihan, atau yang kedua yaitu belajar menerima dan mengambil hikmah atas apa yang terjadi. 

Jika aku bisa, kalian juga pasti bisa. 

Aku tahu, mencoba berdamai dengan keadaan memang tidaklah mudah. Akan tetapi, setiap dari kita pada dasarnya pasti akan bertemu dengan sebuah perubahan, karena hidup selalu berputar. Kita hanya perlu beradaptasi dengan keadaan baru jika mau terus berkembang dan tidak larut dalam keterpurukan. 

Adaptasi penting agar kita jauh lebih terbuka dengan berbagai kemungkinan, kejadian dan solusi-solusi atas berbagai masalah yang muncul. 

Perihal Pertemanan

 

Sumber: x.com



Lucu ya kamu, karena alasan gak ada yang ngajak kamu main/jajan   aja langsung ngerasa kamu gak punya temen, langsung ngerasa bahwa temanmu tidak menganggapmu sebagai sahabat.

Padahal, dia yang selalu ngajak main pun tidak mesti menganggapmu sahabat, mungkin hanya menganggapmu sebagai temen seneng-seneng aja. Dan dia yang tidak pernah mengajakmu main juga bukan berarti dia tidak peduli terhadapmu, malah bisa jadi dia lebih perhatian dan menyayangimu layaknya sahabat.

Menurutmu sahabat itu apa sih?

Menurutku, yang dinamakan sahabat itu adalah mereka yang mau menerima keluhmu tanpa menghakimimu, mau membantumu dengan tulus ketika kamu membutuhkan bantuan. Jadi tidak hanya datang ketika pas ngajak senengnya aja.

Aku ngetik ini karena barusan liat postingan yang mana dia merasa gak punya temen karena gak ada yang ngajak dia main.

Coba deh, berpikir lebih dalam terkait itu. Mungkin, dia gak punya uang.          

 "Tapi kok terus-terusan gak punya uang?"

Oke, uang mungkin ada. Tapi mungkin, finansial keluarganya kurang stabil. Jadi, untuk sekadar main yang gak penting dia perlu berpikir seribu kali dan memilih mengurungkan niatnya untuk main. Apalagi kalau main denganmu pasti menghabiskan kantong, haha...

 


Pernah ada temen yang cerita, kalo dia didiemin gara-gara gak ngasih temennya kado pas sempro. Kok lucu sih, kok ya gak mikir bahwa mungkin saja dia gak ngasih itu karena kantong lagi kering, kan belum kerja juga. Hemmm, apakah memberi kado kepada teman yang sempro sudah menjadi budaya di kota-kota besar? Heran.

Mulai hari ini, jangan hanya karena alasan tidak pernah diajak main membuatmu su’udzon kepada temanmu. Mungkin alasannya, seperti yang kuungkapkan tadi. Namun jika memang perlakuannya lebih dari itu, seperti mengajakmu hanya untuk memenuhi kuota, kamu boleh berpikir bahwa kamu tidak dianggap teman. Dan kamu harus pergi           dari circle itu, cari bahagiamu sendiri, cari orang-orang yang memang bisa menerimamu.

Stigma Kolot dan Dilema Sarjana Muda


Stigma Kolot dan Dilema Sarjana

Masih banyak ditemukan stigma kolot di masyarakat tentang indikator suksesnya sarjana. Banyak yang beranggapan bahwa sarjana dikatakan sukses ketika Ia kerja berseragam dan dengan gaji yang fantastis. Sedangkan yang tak berseragam di gunjing sana-sini. "Untuk apa sekolah tinggi-tinggi jika hanya untuk ini?"

Padahal, hakikat ilmu bermanfaat itu bukan ilmu yang menghasilkan banyak pundi-pundi. Melainkan, seberapa besar ilmu      yang kita pelajari di dunia perkuliahan dapat diterapkan di kehidupan kita.

Stigma kolot seperti itu berhasil memporak-porandakan hati sarjana muda. membuatnya berperang dengan dirinya sendiri, "Lanjut atau tidak, ya? Kalau lanjut tapi akhirnya tidak jadi apa-apa, gimana? Kalau akhirnya cuma jualan gimana? Kalau akhirnya cuma kerja di sawah, gimana?"

Meski hati sarjana tahu bahwa sebenarnya itu bukan masalah, kalau  toh kerja seperti itu juga bukan masalah (karena gak semua kuliah orientasinya hanya untuk kerja dan uang). Tapi tetap saja, cuitan- cuitan masyarakat yang kadang tak berperasaan itulah yang menjadi masalah. Takut-takut kalau, cuitan-cuitan tak bermutu itu juga berhasil membuat telinga orang-tuanya gatal.

Contoh Kasus

Tak terkecuali, Ahmad (sebut saja begitu) pun sempat bingung perkara lanjut atau tidak karena stigma kolot ini. Kalau lulusan S2 harus jadi Dosen, kalau lulusan S1 harus kerja berseragam, yah itu pemikiran kolot yang sampai saat ini belum punah.

"Buk, kalau pean mau aku tetep lanjut S2, pean harus terima, kuat dengan omongan-omongan tetangga ketika nanti kalau aku lulus gak jadi Dosen," katanya, tangannya memegang lutut dan matanya menatap wajah ibunya yang semakin senja.

 

 

 

 

Pernikahan Bukan Solusi

 

Di suatu siang yang cerah, kami bergerombol ke kantin untuk makan  siang setelah menjalani aktivitas yang cukup melelahkan, ya kuliah. “Kuliah tugasnya banyak banget, pengen nikah aja. siapapun yang mau ngelamar, pasti tak terima. capek banget kuliah” katanya. Aku tertawa dan balik bertanya “Yakin?”

Sumber: dataindonesia.id


Dari kisah tadi, menurut kalian gimana? 

Menurutku, pernikahan bukan cuma soal haha hihi, bukan cuma soal kita suka dia dan dia suka kita. Nggak sesederhana itu. sebelum ke jenjang yang lebih serius tentu kita harus memikirkan segala sesuatunya. 

Mikirku gini,    kalau saat ini aja kita sudah mengeluh habis-habisan, nangis-nangis  bombay karena tugas kuliah, bukankah dalam pernikahan masalahnya justru lebih serius? Bukan lagi soal ngerjain tugas yang seabrek. Tapi lebih dari itu. Contohnya, ketika tidak memiliki uang, tugas rumah menumpuk, ngurus anak (apalagi kalau anaknya rewel), dsb. Ketika hal itu terjadi, maka akan memicu kemarahan. Nah, ketika kita marah ke pasangan hidup kita dan dia memahami perasaan kita, itu Alhamdulillah. Nah, kalau sebaliknya gimana? Kita marah dan dia ikutan marah, atau bahkan melakukan hal di luar kendali gimana? Bukankah lebih runyam?

Menikahlah, ketika kamu sudah benar-benar siap dan jangan menjadikan peristiwa sakral ini sebagai suatu pelarian atas  permasalahanmu.

 

Jenis-Jenis Keyword Berdasarkan Cara Kerja Situs

  Sumber: https://thidiweb.com/ Halo gaess , di artkel ini mimin mau bahas tentang jenis-jenis keyword yang belum pernah kita bahas. Yups ,...