Stigma Kolot dan Dilema Sarjana
Masih banyak ditemukan
stigma kolot di masyarakat tentang
indikator suksesnya sarjana.
Banyak yang beranggapan bahwa sarjana dikatakan sukses ketika Ia kerja berseragam dan dengan gaji
yang fantastis. Sedangkan
yang tak berseragam di gunjing sana-sini. "Untuk apa sekolah
tinggi-tinggi jika hanya untuk ini?"
Padahal, hakikat ilmu bermanfaat itu bukan ilmu yang menghasilkan banyak pundi-pundi. Melainkan, seberapa besar ilmu yang kita pelajari di dunia perkuliahan dapat diterapkan di kehidupan
kita.
Stigma kolot seperti
itu berhasil memporak-porandakan hati sarjana muda. membuatnya berperang dengan dirinya
sendiri, "Lanjut atau tidak, ya?
Kalau lanjut tapi akhirnya tidak jadi apa-apa, gimana? Kalau akhirnya cuma jualan gimana? Kalau akhirnya cuma kerja di sawah,
gimana?"
Meski hati sarjana
tahu bahwa sebenarnya itu bukan masalah,
kalau toh kerja seperti itu juga bukan masalah (karena gak semua kuliah orientasinya hanya untuk kerja dan uang).
Tapi tetap saja, cuitan- cuitan masyarakat yang kadang tak berperasaan itulah
yang menjadi masalah. Takut-takut kalau, cuitan-cuitan tak bermutu itu juga berhasil membuat telinga orang-tuanya
gatal.
Contoh Kasus
Tak terkecuali, Ahmad (sebut saja begitu) pun sempat bingung perkara lanjut atau tidak karena stigma kolot ini. Kalau lulusan S2 harus jadi Dosen, kalau lulusan S1 harus kerja berseragam, yah itu pemikiran kolot yang sampai saat ini belum punah.
"Buk, kalau pean
mau aku tetep lanjut S2, pean harus
terima, kuat dengan omongan-omongan tetangga ketika nanti kalau
aku lulus gak jadi Dosen," katanya, tangannya memegang
lutut dan matanya
menatap wajah ibunya yang semakin senja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar